oleh

Peternak Sapi Butuh Uluran Tangan Pemerintah Bantu Pemasaran Produk Pupuk Organik

LEMBANG – Para peternak sapi di Kampung Batuloceng, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, membutuhkan peran pemerintah dalam memecahkan masalah menpemasaran produk pupuk organik yang kini menumpuk belum terjual.

Mereka selama ini telah berupaya meminimalisir pembuangan kotoran sapi ke sungai dengan mengolahnya menjadi pupuk organik. Akan tetapi persoalan muncul ketika akan dipasarkan, para peternak kesulitan karena terkendala biaya angkut yang menyebabkan meningkatnya biaya produksi dan berdampak terhadap harga jual.

“Kita pernah menjual pupuk mencapai 2 ton per minggu di wilayah Bandung Raya dengan menggunakan kendaraan pinjaman. Tapi mobil setelah diambil tidak bisa berjualan lagi dan saat mencoba menyewa mobil hasil penjualan malah menjadi minus,” ucap Ketua Tani Ternak Batuloceng, Cece Royadi.

Dia juga pernah mengajukan peminjaman (inventaris) kendaraan ke KPSBU yang merupakan koperasi yang menaungi ribuan peternak di wilayah Lembang dan sekitarnya. Akan tetapi, upaya Cece tidak membuahkan hasil karena pihak koperasi tidak mengabulkan permintaan para peternak tersebut.

“Pihak KPSBU memberikan jawaban singkat, jangan kan buat pupuk buat narik mako aja mobilnya kurang,” beber Cece.

Dari perhitungan Cece, agar pupuk organik yang diolahnya bisa bersaing dengan pupuk organik dari kotoran ayam, maka harga jualnya harus dikisaran Rp10 ribu per karungnya. Namun biaya produksinya sendiri menghabiskan biaya Rp14 per karungnya dan ada selisih Rp4 ribu yang harus ditutup.

“Nah, siapa yang harus menutup kekurangan biaya tersebut? mungkin gak pemerintah memberikan subsidi atau mengeluarkan kebijakan lain agar pupuk ini bisa terjual,” urainya.

Tidak dipungkiri pemerintah selama ini telah memberikan andil untuk membangun IPAL kotoran sapi. tapi hal itu tidak menyelesaikan masalah. Pasalnya, setiap hari tidak kurang 2 ton kotoran sapi mentah yang diolah, jika telah melalui proses fermentasi selama tiga bulan bisa dihasilkan pupuk organik sebanyak 600 kilogram.

“Kita kan sudah berkeluarga, masa pergi mengolah kotoran sapi dan pulang ke rumah membawa kotoran sapi, kan enggak. Intinya harus bawa uang buat menghidupi keluarga dan tidak bisa begini terus-menerus,” ujar Cece.

Sejauh ini dari dinas terkait dari Pemkab Bandung Barat pernah mendatangi tempat pengelolaan kotoran sapi. Hal itu dijadikan kesempatan untuk mengungkapkan kendala dan berharap solusi tapi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

“Jadi sekedar kunjungan silaturahmi, ngobrol-ngobrol lalu pulang tanpa ada solusi,” terang Cece.

Meskipun begitu, Cece dan peternak lainnya berharap akan ada solusi dari berbagai instansi terkait, pemerintah desa, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung Barat, KPSBU, termasuk dari Satgas Citarum Harum. (RDN)

News Feed